KOMPAS.COM Dinilai Keliru Beritakan Suku Tobelo Dalam

kompas

Capture berita kompas.com yang dipermasalahkan (Sumber: kompas.com)

Oleh: Faris Bobero (www.kabarpulau.com)

Berita di kompas.com edisi Rabu (20/4/2016) berjudul “Keluar Hutan Cari Makanan, Warga Suku Togutil Serang Perusahaan” dinilai sejumlah pihak sebagai berita yang keliru.

Menurut Syaiful Madjid, staf pengajar di Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, tidak hanya keliru dalam pemberitaan, penyebutan Suku Togutil pun sebenarnya sudah keliru, karena itu adalah istilah orang luar kepada Suku Tobelo Dalam yang tinggal di hutan Halmahera.

“Jadi, salah kalau orang menyebut Suku Togutil. Tidak ada suku Togutil di Malut,” ungkap Syaiful, yang saat ini  sedang meneliti tentang kehidupan Suku Tobelo Dalam, O’Hongana Manyawa yang tinggal di hutan, Kamis 21 April 2016, sebagaimana dikutip dari www.kabarpulau.com.

“Saya sudah konfirmasi ke teman-teman Suku Tobelo di sana, bahwa tidak ada penyerangan Suku Tobelo Dalam ke PT Bumi Jaya Utama,” katanya.

Lebih jauh Syaiful menjelaskan bahwa selama ini masih banyak orang bahkan media melakukan stereotype terhadap Suku Tobelo Dalam, bahkan melabelkan Suku Tobelo Dalam sebagai orang jahat.

Syaiful, menjelaskan, ada dua penyebutan untuk Suku Tobelo dalam istilah lokal yakni, O’Hongana Manyawa, penyebutan untuk Suku Tobelo yang tinggal di dalam hutan, dan O’Hoberera Manyawa, Suku Tobelo yang tinggal di luar hutan.

O’Hongana Manyawa sendiri adalah Suku Tobelo Dalam, atau biasa disebut komunitas Togutil, mereka pun punya tradisi menjaga hutan. “Apa yang diistelahkan Negara terkait hutan produksi dan hutan lindung itu sudah diterapkan komunitas Tugutil sejak turun-temurun,” jelasnya.

Munadi, Ketua Badan Pengurus Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara mengatakan, pemberitaan kompas.com tersebut telah menyudutkan warga atau suku Asli di sana.

Hal ini karena banyak wartawan yang tidak bersentuhan langsung dengan komunitas Togutil dan mempunyai pandangan buruk terhadap Suku Tobelo Dalam.

“Sudah banyak kasus wartawan yang tidak berada di lapangan, atau tidak bersentuhan dengan Komunitas Togutil memberitakan Orang Togutil menyerang Camp perusahaan. Padahal kenyataannya tidak begitu,” kata Munadi.

Selain itu, Munadi mengatakan, secara organisasi, AMAN mengutuk pemberitaan yang menyudutkan orang Tobelo Dalam di wilayah Woesopen, bahwa mereka menyerang camp perusahan itu tidak sepenuhnya benar. Harus dibedakan menyerang dan kelompok ini berkunjung ke camp.

Orang lari meninggalkan lokasi itu karena sudah tertanam di otaknya bahwa Tobelo Dalam itu orang jahat jadi harus menghindar.

“Bahwa Kompas.com memberitakan Suku Tobelo Dalam dengan menyebut Suku Togutil keluar ke kampung Kotalo, itu tidak benar. Kelompok ini hanya sampai di camp perusahan yang jaraknya sangat jauh,” kata Munadi.

Munadi yang juga warga Weda, Halmahera Tengah mengatakan, kejadian tersebut bukan terjadi di luar hutan seperti berita kompas.com itu terjadi di dalam hutan. Hutan tempat hidup orang Tobelo Dalam.

Bahkan, menurut Munadi, yang harus dipahami juga oleh orang luar maupun oknum wartawan adalah, perusahan HPH beroperasi di Woesopen yakni wilayah hidup Suku Tobelo Dalam. Justeru yang terganggu adalah Suku Tobelo yang tinggal di wilayah tersebut.

“Saya melihat ada upaya mengkriminalisasi kelompok Tobelo Dalam. Saya pun curiga perusahaan akan menggunakan alasan kejadian ini untuk mengamankan investasinya dengan bantuan Negara. Sebab, Hal ini sudah terjadi berulang kali,” katanya.

“Olehnya itu, AMAN desak kepada pemegang izin dan kepada negara untuk menghargai hak hidup Suku Tobelo Dalam. Jangan merampas ruang hidup mereka,” tambahnya.

(Faris Bobero)

Sumber: http://www.kabarpulau.com

Advertisements