Kartini: Pengabdian 23 Tahun sebagai Kader Posyandu

DSC_2791

Kartini kerap tampil sebagai pembicara dalam berbagai forum, khususnya terkait kesehatan ibu dan anak (Foto: Wahyu Chandra)

Atas perjuangan R.A. Kartini dan sejumlah perempuan sebelum dan setelahnya perempuan Indonesia dapat berdiri secara sejajar dan bahkan melebihi apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

Dalam hal meningkatkan derajad kesehatan ibu dan anak, peran perempuan bahkan lebih besar lagi. Tak jarang mereka harus berjuang tanpa pamrih dan tanpa imbalan yang memadai. Hanya sekedar untuk memenuhi panggilan hati.

Ini juga dialami dan dirasakan oleh Kartini Ismail, yang kebetulan namanya sama dengan R.A Kartini, yang menjadi symbol perjuangan perempuan Indonesia, yang dirayakan bersama hari ini 21 April.

Selama 23 tahun ini, Kartini aktif dalam berbagai aktivitas pelayanan masyarakat, termasuk menjadi kader posyandu di Puskesmas Cdendrawasih, Makassar, Sulawesi Selatan.

Selama 23 tahun berkiprah sebagai kader Posyandu, ibu 4 anak ini mengaku mendapatkan banyak pengalaman hidup yang tak pernah didapatkannya di bangku sekolah.

Sebagai seorang kader posyandu, Kartini mendapat tugas penting. Ia harus membujuk warga, yang berada di wilayah binaannya untuk akrab dengan posyandu.

Sekilas, ini tugas yang sangat sepele. Namun tidak demikian bagi Kartini.

“Saya harus membujuk agar mereka mau ke posyandu,” katanya.

Meskipun posyandu telah tersedia di setiap kelurahan di Makassar, namun tantangan terbesar bagi petugas kesehatan adalah mengajak mereka berkunjung ke posyandu untuk mendapatkan faslitas dan pertolongan kesehatan.

Di sinilah Kartini berperan selaku kader posyandu. Diakuinya, kaum wanita di Makassar terutama yang tinggal di daerah pinggiran, sudah terbiasa hidup tanpa aktifi tas. Dan hal ini juga membuat mereka malas mengunjungi posyandu.

Menjadi seorang kader posyandu memberi kesempatan luas bagi Kartini untuk bergabung di organisasi lain.

Ia mengaku, pengalamannya di bidang organisasi membuat ia bisa diterima dalam setiap perkumpulan. Aktifitasnya ini pula yang membuat ia berbeda dengan ibu-ibu lainnya dan menjadikan ia kebanggaan keluarga, terutama bagi anak-anak dan suaminya.

“Anak-anak saya merasa bangga memiliki seorang ibu yang aktif dalam lingkungan sosial,” katanya.

Tak sekedar menjalankan tugasnya sebagai kader posyandu, Kartini juga memotivasi para perempuan untuk menjadi perempuan kuat.

Bagi Kartini, setiap perempuan harus mandiri dan tidak hanya bergantung kepada suami. Karena itulah, ia mengumpulkan ibu-ibu yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya dan mengajak mereka membuat usaha kecil-kecilan.*

Pulau Tunda, Keruk Pesisir Reklamasi

Tunda1

Foto: Judy Rahardjo

Oleh: Judy Rahardjo (www.rumahkonsumen.blogspot.co.id)

—-

SAYA sungguh terkejut membaca berita, para pengembang proyek reklamasi teluk Jakarta itu mengeruk pasir dari Pulau Tunda. Sebuah pulau kecil yang mengapung di atas Laut Jawa. Letaknya sekitar 16 mil, sekitar dua setengah jam perjalanan, kalau kondisi laut sedang teduh, dari pelabuhan Karangangtu, Banten Lama, Kabupaten Serang. Sebuah kabupaten di Banten, 70 kilometer dari Jakarta.

Saya bersyukur mendapat kesempatan pergi ke Pulau Tunda atau Pulau Babi, pada tahun 2007, ketika bekerja dengan sebuah LSM internasional. Saya menangkap nuansa Tunda, sebagai sebuah pulau yang rentan, dengan suasana inferior yang suram. Setahun sebelum saya tiba di sana, terjadi peristiwa rawan pangan dan kelaparan, akibat musim barat yang berat membuat para nelayan tidak bisa melaut.

Selain itu, teror bajak laut menjadi momok, yang merampas tangkapan laut mereka dan tak segan-segan melukai bahkan membunuh nelayan dengan senjata organik.

Saya pun tersenyum getir, ketika suatu sore sebelum matahari tenggelam di ujung barat, seorang kawan saya di Pulau Tunda, Jarot, bertutur:

Tunda, bukan pulau penting, kapal-kapal besar itu hanya lewat-lewat saja,” sembari menunjuk sebuah kapal peti kemas yang melaju ke timur.

Ruang diskusi dengan pemerintah setempat pun, terasa seperti ruang hampa. Dinas kelautan setempat ketika menenggelamkan rumpon di sekitar pesisir Tunda tanpa melalui diskusi dengan orang-orang Tunda.

Pulau kecil ini terbagi atas dua kampung: Kampung Barat dan Kampung Timur. Jumlah penduduknya, sekitar seribu lebih. Sebagian besar kepemilikan tanah bukan dikuasai orang Tunda, melainkan milik orang dari Kepulauan Seribu, Jakarta.

Sebagian besar laki-laki pulau ini, menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut. Kecuali hari Jumat, mereka tidak melaut. Mereka hanyalah pekerja nelayan, tanpa memiliki perahu atau kapal. Mereka tergantung pada para juragan, yang memiliki sebagian besar kapal.

Orang Tunda menyebut mereka dengan sebutan panggilan “bos”. Para juragan ini juga menjadi tempat berutang bagi orang Tunda, misalnya untuk ongkos operasional mereka melaut.

Syaratnya sederhana, semua hasil tanggapan harus disetor ke juragan, tempat mereka meminjam. Pada saat saya berada di Tunda, ada empat juragan, masing-masing punya lapak, tempat pengumpulan hasil tangkapan.

Di lapak ini, ikan yang disetor ditimbang, dicatat siapa yang setor, ikan di-sortir dan dimasukan dalam kotak gabus yang berisi es. Sementara para perempuan Tunda, mengail uang dengan menjadi tenaga kerja di Arab. Hasil kerja mereka di Arab, biasanya untuk ongkos membikin rumah batu di Tunda.
Para juragan itu mengeluhkan pada saya, betapa suramnya TPI, tempat pelelangan ikan, Karangantu, Serang.  Mereka menganggap TPI itu bukan, tempat lelang. Lantaran, harga ikan terlampau rendah, apalagi kerap kali sepi pembeli.

Pembelinya pun individual, suka tidak langsung memberi uang tunai, suka berutang. Maka, mereka lebih suka merapat ke TPI di Muara Syahban, Tangerang. Mereka memberangkatkan hasil tangkapan pada dini hari, sekitar empat jam dari Tunda. Salah satu jurangan, “Bos” Sanusi punya pola berbeda, dia memang merapatkan kapal di Muara Syahban, tapi di sana mobil pick-up-nya sudah siap menunggu, untuk mengangkut hasil tangkapan  di Kamal dan Muara Baru, Jakarta.

Alasannya sederhana, sudah ada kontak dengan pembeli di sana, selain itu kalau Muara Syahban, pembeli tidak langsung bayar tunai, apalagi ada potongan enam persen untuk disetor ke pemerintah setempat. Biasanya, hasil tangkapan nelayan Tunda, adalah jenis ikan dasar atau ikan karang. Harganya seringkali fluktuatif. Tapi, kalau hari raya Cina tiba, ikan tenggiri harganya menjadi cukup mahal.

Pulau Tunda, tempat yang membuat saya lebih bisa menghayati, betapa krusialnya kehidupan orang-orang pulau, di tengah ketimpangan relasi kuasa, kemiskinan, juga isu-isu perubahan iklim.

Di pulau ini, LIPI, lembaga ilmu pengetahuan indonesia, mendatangkan bantuan listrik tenaga matahari untuk rumah tangga, dengan aki buatan korea. Namun, hanya cukup untuk menyalakan dua bola lampu dan televisi.

Suatu malam, saya meminta bantuan Slamet, seorang kawan di Pulau Tunda, untuk menyewa gengset guna menyalakan laptop saya guna membuat laporan.

Paginya, Slamet mengatakan pada saya,”mas, para tetangga sebelah menyampaikan terima kasih“.

Saya agak kaget, terima kasih untuk apa. “Iya mas, tadi malam, mereka menyambung listrik ke gengset itu, supaya mereka bisa nonton televisi berwarna, karena kalau pakai listrik tenaga matahari, televisi mereka menjadi hitam-putih“, lanjut Slamet.

Maka, saya benar-benar merasa risau, dengan para pengembang reklamasi itu yang mengeruk pasir di Pulau Tunda.
Boleh jadi agak berbeda dengan tempat lain. Tiga bulan sebelum penanggalan 2015 habis, seorang kawan saya di Pare-Pare, Haji Amin, mengajak saya untuk menyaksikan “gunung yang dipindahkan ke laut”.

Saya waktu itu tertawa saja, sembari mengingat potongan cerita epos Ramayana, ketika kera Hanoman memindahkan gunung.

Esok harinya, Haji Amin mengantar saya ke Kantor BPS Pinrang. Tidak jauh dari perbatasan Pare-Pare dan Pinrang, Haji Amin menunjukan saya di sisi kanan jalan,”dulu ini gunung, kemudian tanahnya dikeruk dengan ekskavator, untuk menimbun laut di sebelah kiri jalan“, katanya.

Saya memperhatikan secara seksama, perumahan yang dulu tertutupi bukit itu memang terlihat jelas, dan pesisir laut di sebelah kiri jalan itu terlihat rata dengan timbunan tanah. Tapi tidak semuanya, bukit itu terkelupas.

Masih tersisa tanah kuburan yang menjulang ke langit, tetapi sisi-sisinya terkelupas. Saya lalu menanyakan hal ini pada Haji Amin.

Waktu mau dikeruk tanahnya, sampai dekat kuburan, ekskavator itu mendadak mati, macet, rusak, jadi tidak diteruskan“, tuturnya. Lalu, apa yang saya bayangkan kemudian. Bagaimana orang mau berziarah ke kuburan itu, apa mesti pakai tangga?

Tamalanrea, 20 April 2016

Sumber: http://rumahkonsumen.blogspot.co.id/2016/04/pulau-tunda-keruk-pasir-reklamasi.html

Akun Facebook WALHI Sulsel Dibobol. Karena Reklamasi?

 

Capture

Akun Facebook organisasi lingkungan WALHI Sulawesi Selatan dibobol orang yang tak bertanggungjawab. Dampaknya, akun organisasi yang akhir-akhir ini gencar menyoroti reklamasi pesisir Makassar ini hilang dari pencarian Facebook.

“Selamat! Kalian sudah berhasil membobol Facebook Walhi Sulsel dan menonaktifkannya,” tulis Muhammad Al Amin, Biro Kampanye dan Advokasi WALHI Sulsel, (Kamis 21/4/2016).

Menurut Amin, kemungkinan akunnya diambil alih baru kemudian dihapus.Ia baru mengetahuinya ketika hendak membuka Facebook namun tak bisa diakses pada Rabu malam (20/4/2016).

“Kalau cari akun Walhi Sulsel di pencarian Facebooknya pasti tidak ada,” ujarnya .

Amin sendiri sudah mencoba melaporkan hal ini ke Facebook dan mendapatkan jawaban akan segera dilakukan pemeriksaan dokumen.

Meski belum bisa dipastikan, namun dicurigai pihak yang melakukan penghapusan akun Facebook ini adalah yang tidak senang dengan aktivitas WALHI Sulsel dalam menyuarakan penolakan reklmasi akhir-akhir ini.

Reklamasi ini sendiri kasusnya sedang bergulir di Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN) Makassar, dimana WALHI Sulsel menggugat perizinan Pemprov Sulsel .

Selasa kemarin (19/4/2016), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui suratnya ke WALHI Sulsel menyatakan belum pernah memberikan izin lokasi dan rekomendasi pelaksanaan reklamasi, sebagaimana yang diakui oleh pihak Pemprov Sulsel selama ini. []

PLTA Seko untuk Siapa?

seko3

Badan Sungai Betue di Wilayah Adat Amballong yang akan jadi lokasi PLTA oleh PT. SEKOPOWER PRIMA (Foto: Mahir Takaka).

Oleh: Abdi Akbar, Staf Direktorat Politik, Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara

Polemik atas rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara mengundang banyak komentar dan opini, bahkan ada yang menganggap penolakan Masyarakat Adat di Wilayah tersebut sebagai bentuk anti-pembangunan sampai menyangkutpautkannya dengan urusan politik Pilkada.

Munculnya beragam opini yang membenarkan proses perampasan hak wilayah Masyarakat Adat tersebut dapat dipahami, karena dimanapun Koorporasi (baca: kapitalisme) bekerja pasti memerlukan dukungan dari kelompok politisi dan intelektual yang akan bertugas mengawal dan memuluskan jalannya investasi dengan mengatasnamakan pembangunan.

Tapi yang lebih membuat saya tergerak untuk menuliskan ini adalah adanya tulisan Opini di portal berita Lagaligopos.com berjudul PLTA atau PLTHMA Seko? dimana si penulis memulai opininya dengan analogi Rambutan atas konflik tersebut. Semoga si penulis tahu cara memakan buah rambutan agar tidak tersedak bijinya.

Menganalogikan penolakan pembangunan PLTA Seko dengan analogi buah rambutan dan menyangkutpautkannya dengan Pilkada sebenarnya menunjukkan ketidakpahaman si penulis tentang apa yang melatarbelakangi penolakan Masyarakat Adat di wilayah adat Amballong, Pohoneang dan Hoyyane Kecamatan Seko atas rencana pembangunan PLTA di Wilayah Adat mereka.

Perlu dipahami bahwa proses rencana pembangunan PLTA tersebut selain mengancam hilangnya hak kelola Masyarakat Adat atas wilayahnya, juga akan berdampak secara sosial dan ekonomi dan lebih jauh akan menimbulkan konflik sosial atar masyarakat karena adanya pro-dan kontra atas beragamnya investasi yang akan masuk pasca dibangunnya PLTA tersebut. Bukan hanya itu, pembangunan tersebut juga melanggar hak Masyarakat Adat Seko yang secara tegas diatur dalam PERDA No.12 tahn 2004 tentang Perlindungan Masyarakat Adat di Luwu Utara diperkuat lagi dengan SK Bupati no. 300 tahun 2004 tentang Pengakuan Keberadaan Masyarakat Adat Seko.
Pada pasal 10 (a) SK Bupati Luwu Utara no.300 tahun 2004 dengan tegas menyebutkan :“perlindungan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 (sembilan) di atas diwujudkan dengan cara : Setiap pemberian izin pemanfaatan sumber daya alam di wilayah masyarakat adat seko harus sepengetahuan masyarakat adat seko”.

Melihat fakta hukum tersebut. Maka Masyarakat Adat Seko wajib diberitahukan dan mengetahui setiap proses perencanaan, pelaksanaan, tujuan dan dampaknya atas setiap proyek dan kebijakan pembangunan yang akan dilakukan di wilayah adat mereka. Hal ini sejalan dengan prinsip FPIC (free, Prior, Informed, Consent).

Namun sejak perencanaan sampai izin eksplorasi dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten Luwu Utara, tidak pernah ada proses yang dilakukan oleh pemerintah untuk meminta persetujuan dari Masyarakat Adat khususnya yang ada di Wilayah Adat Amballong, Pohoneang dan Hoyyane agar memberikan wilayah adat mereka sebagai lokasi pembangunan PLTA, dimana persetujuan tersebut harus melalui musyawarah adat, yang di Seko dikenal dengan istilah “Mukobo” yaitu proses pengambilan keputusan tertinggi melalui Musyawarah Adat.

Bukannya melakukan proses-proses tersebut, pemerintah malah tetap memaksakan agar pembangunan PLTA tersebut berjalan, sebagai dampaknya pada bulan September 2014, sekitar 500 warga adat di Pohoneang dan Hoyyane menanda tangani dan melayangkan surat protes yang ditujukan ke pemerintah daerah sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran PLTA oleh PT. SEKO POWER PRIMA dan PT. SEKO PRADA.

KEPENTINGAN SIAPA?

Benarkah pembangunan PLTA oleh PT. SEKO POWER PRIMA dan PT. SEKO PRADA tujuan utamanya adalah untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi masyarakat melalui PLN, bukan untuk kebutuhan rencana Industri pertambangan di tiga wilayah Seko, Rongkong dan Rampi?

Mari kita bedah, berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) no.19 tahun 2015 tentang pembelian Tenaga Listrik Dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Dengan Kapasitas Sampai Dengan 10 MW (Sepuluh Megawatt). Dari judulnya PERMEN ESDM itu saja sudah dapat diketahui bahwa pembelian tenaga listrik yang bisa dilakukan oleh PLN pada perusahaan PLTA hanya bisa dengan batas maksimal 10 Mega Watt. Sementara PT. Seko Power Prima berinvestasi untuk membangun PLTA dengan kapasitas 380 MW, pertanyaannya 370 MW listrik itu mau dijual kemana kalau bukan untuk mensuplai listrik bagi rencana investasi pembangunan perusahaan-perusahaan tambang yang telah mengantongi izin eksplorasi di tiga kecamatan (Seko, Rongkong dan Rampi)?

Dan berdasarkan data dari Dinas Pertambangan Luwu Utara, terdapat 10 perusahaan tambang yang telah mendapat Izin Usaha Pertambangan (IUP) sejak tahun 2011, diantaranya :
1. PT. Aneka Tambang, (Emas)
2. PT. Seko Bukit Mas, (Bijih Besi)
3. PT. Sapta Cipta Kencana Wisma, (Bijih Besi)
4. PT. Andalan Prima Cakrawala (Bijih Besi)
5. PT. Trisakti Panca Sakti (Bijih Besi)
6. PT. Citra Palu Mineral (Logam Dasar)
7. PT. Kalla Arebamma (Bijih Besi)
8. PT. Kalla Arebamma (Emas)
9. PT. Dataran Seko Perkasa (Bijih Besi)
10. PT. Samudra Raya Prima (Bijih Besi)

Dengan total luasan 237.984 Ha.

Jadi alasan bahwa pembangunan PLTA yang sepenuhnya untuk kebutuhan listrik masyarakat yang selama ini dikoar-koarkan oleh kaki tangan perusahaan PLTA kepada Masyarakat Luwu Utara adalah suatu kebohongan besar yang gayung bersambut dengan pemadaman listrik yang sering terjadi di Luwu Utara akhir-akhir ini.

Pertanyaannya kemudian siapakah yang akan diuntungkan dan siapakah yang akan dipinggirkan haknya dalam rencana kebijakan pembangunan yang melibatkan kelompok Bisnis, Politik dan Intelektual tersebut?

Sembari mencari jawaban atas pertanyaan diatas tentu saja sambil menguyah buah rambutan, saya mangajak semua pihak untuk memahami bahwa Masyarakat Adat itu tidak anti-pembangunan. Tetapi anti terhadap proses yang mengabaikan hak-hak mereka. Anti terhadap invasi pembangunan yang rakus tanah dan menghancurkan wilayah adat titipan leluhur. Anti pembangunan yang tidak memikirkan nasib dan masa depan generasi -generasi yang akan datang.

Sumber: http://www.lagaligopos.com

Reklamasi Dituding Penyebab Rusaknya Terumbu Karang di Pesisir Makassar

Karang01

Dengan metode transect point peneliti dari MSDC menemukan adanya trend penurunan kualitas populasi dan kualitas terumbu karang di tiga pulau di pesisir Kota Makassar. (Foto:MSDC)

Populasi dan kualitas terumbu karang di tiga pulau di pesisir Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menurun drastis. Beberapa faktor eksternal dicurigan sebagai penyebabnya, termasuk proyek reklamasi untuk pembangunan Centre Point of Indonesia (CPI).

Hal ini terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanuddin, pada awal Desember 2015 lalu. Melalui metode point transect, penelitian ini menunjukkan adanya trend penurunan kualitas terumbu karang di tiga pulau yang diteliti, yaitu Pulau Barang Lompo, Barrang Caddi dan Samalona.

“Dari ketiga pulau yang kami teliti memang terlihat adanya penurunan populasi atau persentase ketertutupan terumbu karang dalam empat tahun terakhir. Yang paling parah terjadi di Pulau Samalona, pulau terdekat dari Kota Makassar,” ungkap Ketua MSDC, Hardin Lakota, di Makassar, Sabtu (9/1/2016).

Penelitian ini mengambil sampel di dua titik pada masing-masing pulau, yaitu di kedalaman 3 meter dan 7 meter, dengan panjang transek 100 meter. Jarak yang dianggap sudah mewakili pulau yang diteliti.

Menurut Hardin, untuk mengetahui kualitas karang bisa dihitung dari persentase karang hidup di masing-masing pulau yang diteliti. Indikatornya adalah jika kondisi ketertutupan antara 75-100 persen maka kualitasanya sangat baik. Antara 50 – 75 persen baik, dan jika di bawah 50 persen maka dikategorikan buruk.

“Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2015 ini kondisi ketertutupan karang rata-rata di angka 30-an persen, yang berarti termasuk dalam kategori buruk.”

Dari grafik yang ditunjukkan Hardin, menunjukkan bahwa di Pulau Barrang Caddi, kondisi terumbu karangnya sempat mengalami kenaikan pada tahun 2013, yaitu 67 persen, dari sebelumnya yang hanya 56 persen. Namun, pada tahun 2014 menurun menjadi 47 persen. Pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan hingga 33 persen.

Karang02

Kondisi terumbu karang yang rusak, tertutupi pasir dan ditumbuhi algae banyak ditemukan di daerah yang diteliti. (Foto: MSDC)

Di Pulau Barrang Lompo, dari tahun 2012 – 2015 trend nya terus menurun. Jika pada tahun 2012 populasi ketertutupan sekitar 62 persen, turun menjadi 50 persen di tahun 2013, lalu turun lagi ke angka 34 persen di tahun 2014. Pada tahun 2015 turun drastis ke angka 29 persen, yang merupakan angka terendah dari seluruh pulau yang diteliti.

Trend penurunan yang sama terjadi di Pulau Samalona. Jika ada tahun 2012 kondisi ketertutupan yang direkam sebesar 57 persen, menurun menjadi 56 persen di tahun 2014, lalu ke angka 49 persen di tahun 2014. Penurunan drastis terjadi di tahun 2015 menjadi 35 persen.

“Ini bisa jadi terkait dengan semakin tingginya intensitas pembangunan di wilayah pesisir Makassar dalam dua tahun terakhir,” ungkap Hardin.

Menurut Hardin, tidak hanya segi populasi, kondisi kesehatan terumbu karang di pulau yang diteliti juga menunjukkan adanya penurunan yang drastis. Banyak terumbu karang yang hampir mati, dan di beberapa tempat dipenuhi oleh pasir akibat sedimentasi yang parah. Sampah-sampah juga banyak ditemukan di sela-sela terumbu karang.

Menyangkut penyebab, meski belum bisa memastikan, namun dilihat dari ciri-ciri kerusakan sebagian besar diakibatkan oleh dampak reklamasi. Penyebab lain yang dicurigai adalah tindakan pengeboman dan pembiusan, meski skalanya kecil.

Pemerintah Kota Makassar sendiri, menurut Hardin, menuding penyebab kerusakan itu pada perilaku pengeboman dan pembiusan. Namun ia sangsi dengan asumsi tersebut, dengan melihat apa yang ditemukannya di lapangan.

“Mungkin memang ada juga karena bom dan bius tapi skalanya kecil. Justru yang banyak terjadi adalah kekeruhan air dan banyaknya pasir yang menutupi karang. Ini karena sedimentasi sebagai dampak dari reklamasi,” tambahnya.

Pelaksanaan reef check ini sendiri merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan MSDC kerjasama dengan Jaringan Kerja Reefcheck Indonesia (JKRI) yang berpusat di Bali. ‘Reef Check’ selain sebagai metode juga sendiri merupakan suatu jaringan pemantauan terumbu karang di seluruh dunia dengan pusat di California, Amerika Serikat.

“Aktivitas reef check ini sudah dilakukan sejak 1998, namun baru beberapa tahun ini dipercayakan kepada lembaga kami. Tujuannya untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Indonesia dan kami MSDC khusus untuk Indonesia bagian timur.”

Dalam pelaksanaan penelitian termbu karang, menurut Hardin, dikenal banyak metode namun mereka memilih point transect karena lebih sederhana sehingga mudah dipahami dan dilakukan oleh masyarakat awam.

“Harapannya bahwa dengan metode ini juga bisa dilakukan oleh masyarakat awam karena metodenya yang sederhana melalui transek atau penelusuran di titik tertentu dengan jarak antara titik setengah meter.”

Karang05

Grafik trend penurunan populasi terumbu karang di tiga pulau yang diteliti. Pada 2015, terumbu karang di seluruh pulau menunjukkan penurunan rata-rata 30-an persen, yang berarti berada dalam kualitas buruk. (Gambar: MSDC)

Tidak hanya meneliti terumbu karang, pelaksanaan reef check ini juga bertujuan untuk monitoring ikan-ikan tertentu yang dianggap penting atau dilindungi. Beberapa jenis di antaranya adalah ikan kerapu tikus, humphead wrasse atau Napoleon dan bumphead.

Dengan kondisi yang rusak parah tersebut, Hardin berharap adanya upaya berbagai pihak melakukan aksi bersama dalam melakukan penyelamatan.

“Memang perlu kerjasama antar berbagai pihak untuk melakukan tindakan bersama. Pertama-tama mungkin adalah melakukan penelitian lanjutan tentang tingkat kekeruhan, untuk mencari penyebabnya secara pasti. Kita butuh informasi ini untuk memastikan penyebab yang sebenarnya sebelum menentukan tindakan strategis yang bisa dilakukan ke depan.”

Peluang memperbaiki kondisi terumbu karang ini pun menurut Hardi, masih terbuka lebar, karena tidak semua terumbu karang mengalami kerusakan yang parah.

“Dalam pemikiran kami langkah yang bisa dilakukan adalah melakukan monitoring secara intens, tiga kali seminggu. Kita harus lihat secara pasti apakah penyebabnya adalah alami atau karena faktor eksternal, seperti reklamasi atau bom ikan.”

Mengenai kemungkinan diadakannya transplantasi terumbu karang, menurut Hardin, bukanlah solusi yang tepat.

“Melakukan transplantasi terumbu karang di perairan yang keruh sama saja bohong dan malah akan semakin merusak, karena ini terkait pertumbuhan. Kecuali perairannya sehat baru bisa. Kita sudah mencoba beberapa kali tapi ternyata hasilnya tidak efektif dengan tingkat pertumbuhan yang kurang bagus.”

Proyek transplantasi terumbu karang yang sering dilakukan, menurut Hardin, banyak yang gagal karena hanya fokus pada prosesnya saja, tanpa ada pengawasan setelahnya.

Irham Rapi, Direktur Yayasan Konservasi Laut (YKL) tak menampik dugaan bahwa reklamasi melalui proyek CPI sebagai penyebab utama rusaknya terumbu karang tersebut.

“Besar kemungkinan memang itu adalah dampak dari reklamasi, meski memang harus dilakukan penelitian lebih lanjut lagi. Penyebabnya sendiri bisa macam-macam,” katanya.

Terumbu karang, menurutnya, memang membutuhkan kondisi laut yang sehat. Tidak hanya karena reklamasi, gangguan terhadap populasi dan pertumbuhan terumbu karang bisa juga disebabkan karena aktivitas pembuangan limbah, pengeboman, bius dan bahkan karena pengaruh perubahan iklim.

“Perubahan iklim dengan suhu yang semakin panas bisa menyebabkan matinya terumbu karang, munculnya penyakit seperti bleaching atau pemutihan karang.”

Jamaluddin Jompa, Dekan Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin berharap agar hasil penelitian ini ditanggapi serius oleh pemerintah Kota Makassar. Jika memang kerusakan itu terjadi karena kesengajaan maka perlu adanya sanksi berat bagi pelaku pengrusakan.

“Perlu adanya tindak lanjut dari pemerintah kota Makassar akan hal ini. Selain itu diperlukan adanya penegakan aturan dan hukum bagi para perusak ekosistem terumbu karang dan laut,” tambahnya. []

Penulis: Wahyu Chandra (wahyuch@outlook.com)

Sumber: mongabay.co.id

 

Yuk ke Taman Nasional Laut Takabonerate

Foto 1

Dengan kapal nelayan ditempuh dalam waktu 6-7 jam, sementara dengan speedboat bermesin 200 pk bias ditempuh hanya dalam waktu 2 jam. Belum ada kapal regular, sementara untuk sewa speedboat harus merogoh kocek hingga Rp 5 juta. Foto: Wahyu Chandra

Fauzi tersenyum puas. Sekujur tubuhnya masih basah dengan pakaian selam yang dikenakannya. Beberapa saat sebelumnya ia puas menyelam (fun diving) berkeliling mengitari terumbu karang di sekeliling pantai Pulau Tinabo yang jernih. Tak henti-hentinya ia berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.

Fauzi adalah satu dari puluhan peserta Takabonerate Island Expedition (TIE) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Selama lima hari (2-6 September) mereka dimanjakan oleh beragam pesona laut, baik di daratan maupun di bawah laut.

Fauzi sehari-hari adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Akuntansi di Jakarta. Ia secara khusus datang ke Selayar untuk mengikuti TIE. Peserta lain juga datang dari jauh, dari Gorontalo, Surabaya, Malang, Palu dan sebagian besar berasal dari Makassar, dengan profesi berbeda-beda. Mulai dari pegawai bank, dokter, karyawan swasta, blogger dan sebagian juga jurnalis.

Pelaksanaan TIE sendiri telah memasuki tahun ketujuh. Tujuannya adalah mengenalkan keindahan Taman Nasional Laut Takabonerate, dengan potensi wisata laut yang tak kalah indahnya dibanding Taman Laut Bunaken di Manado dan Raja Ampat di Papua Barat. Sebagian besar terumbu karang sepanjang perairan ini masih sangat alami tak terjamah dengan belasan titik penyelaman di dalamnya.

Kegiatan utama di Takabonerate terbagi atas dua, yaitu land tour dan diving di tiga titik yang telah disiapkan oleh panitia dari Taman Nasional Takabonerate.

Kelompok land tour diajak berkunjung ke Pulau Rajuni Kecil, berbincang dengan masyarakat pulau yang terdiri dari orang Bajo dan Bugis. Sementara kelompok diving menuju ke titik selam yang telah ditetapkan oleh panitia, di Tinabo dan Jinato.

Foto 6

Terumbu karang dan aneka flora dan fauna lainnya menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi yang sempat melakukan diving di sejumlah titik penyelaman di Kepulauan ini. (Foto: Syamu Rizal)

Pada sore harinya, semua peserta diajak ke sebuah gosong, yang mengingatkan kita pada film Pirates of Carrabien. Di lokasi ini para peserta, beserta sejumlah wiasatawan dari Australia melakukan aksi pelepasan tukik.

Di Pulau Tonabo sendiri, pemandangan alam di sore hari tak kalah menakjubannya. Setiap sore kita dimanjakan oleh pamandangan sunset. Beberapa peserta juga melakukan snorkling dan mengayuh kayak atau sekedar berfoto selfie dengan latar warna laut keemasan.

Hal lain yang bisa dinikmati adalah memberi makan kepada anak-anak hiu yang dengan mudah ditemui di tempat itu, cukup dengan memberi potongan ikan yang masih segar.

“Ikan hiu sangat sensitive dengan bau darah, jadi mereka akan datang kalau diberi potongan ikan yang masih segar-segar,” ungkap Yasri, salah seorang petugas patroli dari TN Takabonerate yang memandu para pesiar ini.

Beberapa peserta yang mengikuti kegiatan ini menyatakan kepuasan dan ketakjuban dengan keindahan yang disajikan oleh TN Takabonerate ini.

Mayang, seorang dosen dari Gorontalo menilai perjalanan ekspedisi ini sangat seru meskipun ia tak sempat menyelam dan hanya berwisata land tour.

“Ini menakjubkan. Banyak hal yang bias dinikmati, apalagi di sore hari. Semakin seru karena kita ramai-ramai dengan orang yang sebelumnya tak saling kenal,” katanya.

Meski puas dengan ekspedisi ini, namun ia juga mengeluhkan beberapa hal, seperti kurangnya informasi tentang kegiatan serta pengelolaan kegiatan yang seperti tak terkelola dengan baik.

“Kita baru tahu seminggu lalu dan itupun dengan informasi yang terbatas, misalnya apa saja yang disiapkan oleh panitia, kondisi lapangan bagaimana dan sebagainya. Ini penting agar kami bisa memperkirakan dengan baik kebutuhan-kebutuhan di lapangan,” katanya.

Fauzi, peserta lain menyayangkan belum terkelolanya industri wisata di Takabonerate meskipun memiliki potensi keindahan yang sangat besar.

“Sayang sekali dengan potensi wisata sebesar ini belum dikembangkan dengan baik,” ungkap Fauzy.

Terkait adanya keluhan ini diakui Ronald sebagai hal yang wajar. Diakuinya selama ini memang kordinasi antara Pemda dengan pihak TN Takabonerate serta instansi lain terkait memang masih sangat kurang. Termasuk yang paling banya dikeluhkan adalah akses transportasi yang mahal serta fasilitas air minum yang terbatas. Meski terdapat penyulingan air, namun karena kadar garam yang tinggi, air yang digunakan masih terasa sangat asin.

Mengenal Takabonerate

Kepulauan Takabonerate yang menjadi sasaran kunjungan para pesiar ini terletak di Laut Flores bagian utara, yang terdiri dari 21 pulau, yang membentuk lingkaran dan dikelilingi oleh terumbu karang.

Pulau-pulau berpenghuni antara lain Pulau Latondu, Rajuni Besar dan Rajuni Kecil, Tarupa, Jinato, Pasitallu Tengah dan Pasitallu Timur. Selebihnya berupa pulau kosong dan patch reef (gosong), yang muncul ke permukaan pada saat air surut.

Kepulauan ini memiliki luas sekitar 530.765 hektar dengan luas Atol kurang lebih 220 ribu hektar. Bentuk karang berupa barrier reef (penghalang), fringing reef (terumbu karang tepi) dan atol (cincin lingkaran) yang dibentuk oleh 261 jenis karang.

Sejak tahun 1992, kawasan ini ditetapkan pemerintah sebagai taman nasional. Takabonerate memiliki kawasan atol tebesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Pada tahun 2005 Takabonerate ini telah diusulkan ke UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia.

Menurut Ronald Yusuf, salah seorang staf dari TN Takabonerate, musim kunjungan terbak adalah antara April-Juni dan Oktober-Desember setiap tahunnya.

Ronald juga menjelaskan beberapa titik penyelaman antara lain Ibel Orange 1, yang berlokasi di Pulau Tinabo Besar. Topografi di titik selam ini berupa gundukan karang (pinnacle) dengan kedalaman 15-25 m dan visibility 5-10 meter.

“Kondisi karang bagus dengan tutupan 35-65 persen, dominan hard coral dan soft coral.,” katanya.

Ada juga di Joan Garden, berlokasi di Pulau Tinabo Kecil, berupa taka tenggelam dengan kedalaman 10-25 meter dan vibility 10-15 meter. Kondisi karangnya juga dinilai sangat bagus dengan tutupan karang 45-80 persen, yang didominasi hard coral dan soft coral.

Spot lain adalah Spot Pinly Fish, yang berlokasi di Pulau Tarupa Kecil dengan topografi reef flat, memiliki kedalaman 5-8 meter dan visibility 12 meter.

“Di sini ditumbuhi karang yang rapat dengan dominasi hard coral dan soft coral.”

Di Pulau Latondu, terdapat spot Wall Reef dengan topografi drop off dengan kedalaman 20 meter dan visibility 4-8 meter. Tutupan karang sangat bagus dengan tutupan 50-89 persen dengan dominan karang soft coral dan hard corl.

“Di sini banyak ditemukan ikan karang seperti sanpper, sweetlips, barracuda, butterfly fish dan lainnya. Ada juga ikan pelagis seperti tarvelling dan tuna.”

Bagaimana mencapai Takabonerate?

Untuk menjejali keindahan Takabonerate maka kita harus menuju Pulau Tinabo terlebih dahulu. Di pulau kecil, yang dulunya tak bepenghuni ini terdapat salah satu Posko TN Takabonerate dan sejumlah resort, tempat wisatawan bias beristirahat dan mempersiapkan segala peralatan. Sewa resort nya tergolong murah, meski dengan fasilitas yang masih sangat terbatas.

Perjalanan menuju Pulau Tinabo cukup melelahkan. Dari Makassar kita harus berkendaraan mobil sejauh 200 km ke Kabupaten Bulukumba, tepatnya ke pelabuhan Bira Bulukumba, sebelum akhirnya menyebrang ke Pelabuhan Pamatata Selayar. Dari Makassar ke Dermaga Bulukumba sendiri butuh waktu hingga 5 jam. Sementara dari pelabuhan Bira ke Pamatata butuh waktu sekitar 2 jam. Dari Pamatata ke Kota Benteng, ibukota Selayar harus berkendaraan lagi sekitar 1 jam perjalanan.

Alternatif udara sebenarnya juga memungkinkan, yaitu melalui Bandara Hasanuddin ke Bandara Aroepala Selayar. Jalur udara menggunakan bisa menggunakan Wings Air yang berangkat dari Makassar sekitar pukul 08.55 setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu dengan tarif Rp 440 ribu, waktu tempuh 20 menit. Ada juga Avia Star, dengan harga tiket sekitar Rp 250 ribu, kapasitas 18 kursi, yang berangkat tiap hari Senin, Rabu dan Jumat, waktu tempuh 40 menit.

Untuk menuju Tinabo, belum ada transportasi regular, sehingga harus sewa speedboat dengan biaya sekitar Rp 5 juta, untuk perjalanan selama 3 hari. Menurut Ronald Yusuf, itu sudah termasuk dengan ongkos penginapan tiga hari, restribusi ke TN Takabonerate, dan keliling ke spot-spot penyelaman yang diinginkan.

“Sebenarnya ada paket-paket juga, tergantung kita mau paket yang mana. Biaya minimanl itu Rp 5 juta per rombongan untuk beberapa orang,” ungkap Ronald.

Alternatif lain bisa menumpang ke kapal warga menuju Pulau Rajuni Kecil, meski untuk ini tak ada jadwal yang pasti. []

 

Penulis: Wahyu Chandra (wahyuch@outlook.com). Sumber tulisan: http://www.mongabay.co.id

 

 

Tak Perlu Mahal, Rambut Rontok Cukup Atasi dengan Tanaman Dapur Ini

 

chinese-celery

Seledri (Daun Sop). Sumber gambar: cookasianfood.com

Seledri (Apium graveolens) atau kadang disebut daun sop, sederi atau saladri (Jawa). Tanaman ini biasanya digunakan sebatas penambah cita rasa masakan, karena aroma daunnya. Tangkai dan daunnya juga bisa dimakan sebagai lalap.

Disamping kegunaannya sebagai bahan penambah cita rasa makanan, tanaman ini ternyata memiliki efek herbal untuk sejumlah masalah kesehatan tertentu. Daunnya bisa diolah menjadi sampho yang melebatkan rambut. Daunnya juga bisa dibuat jus untuk minuman kesehatan, perawatan kecantikan dan membersihkan noda pada email gigi.

Tanaman ini juga berkhasiat sebagai antirematik, penenang (sedative), bersifat meluruhkan air seni (diuretic) dan antiseptic. Khasiat lain dapat membantu pengeluaran asam urat dari tubuh, pembersih darah, menghentikan pendarahan dan menurunkan tekanan darah.

Sejumlah resep terkait pemanfaatan seledri ini antara lain:

  1. Hipertensi

Siapkan 20 batang seledri cuci bersih. Masukan dalam panic bersama 2 gelas air. Rebus hingga tersisa ¾ nya. Angkat, dinginkan lalu minum dua kali sehari bersama ampasnya.

  1. Penyubur rambut

Sebanyak 10-15 tangkai seledri dicuci, lalu dihaluskan. Setelah keramas, oleskan tumbukan seledri ke kulit kepala dan rambut. Lakukan pemijatan ringan. Kemudian bungkus kepala dengan handuk. Diamkan selama kurang lebih ½ jam. Setelah itu bilas hingga bersih. Lakukan dengan secara teratur beberapa kali seminggu.

  1. Rematik

Siapkan batang dan daung seledri sebanyak 1-2 genggam. Cuci bersih, potong kecil-kecil, lalu rebus dalam 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Angkat, dinginkan, lalu saring. Minum sekaligus hingga habis. Seledri juga bisa digunakan sebagai lalap.

  1. Wajah Berminyak

Sediakan 3 batang seledri, lalu cuci sampai besih. Iris kecil-kecil, seduh dan tutup. Seelah dingin simpan di lemari es. Menjelang tidur malam oleskan sari seledri ke wajah yang sudah bersih. Setelah kering baru bilas muka hingga bersih. Lakukanlah secara teratur.

Sumber: Herbal Indonesia Berkhasiat Vol 10

Diabetes atau Haid Tak Lancar, Cukup Obati dengan Tanaman Pagar ini

800px-Coleus_(Plectranthus_scutellarioides)_3

Sumber Foto:  commons.wikimedia.org

Namanya daun Iler (Coleus scutellarioides). Di berbagai daerah dikenal dengan berbagai nama seperti Jawer kotok (Sunda), kentangan (Jawa), adang-adang (Palembang), dan pilado (Minangkabau).

Selama ini kita mengenal tanaman ini hanya sebatas tanaman hias atau tanaman pagar. Mudah ditemukan di daerah manapun dengan warnanya yang khas hijau kecoklatan.

Tanaman ini memiliki batang berbentuk tegak dan merayap dengan tinggi batang pohonnya berkisar 30 cm sampai 150 cm, mempunyai penampung batang berbentuk berbentuk segi empat dan termasuk katagori tumbuhan basah yang batangnya mudah patah.

Daunnya berbentuk hati dan pada setiap tepiannya dihiasi oleh jorong-jorong atau lekuk-lekuk tipis yang bersambungan dan didukung oleh tangkai daun dan memiliki warna yang beraneka ragam. Sementara bunganya berbentuk untaian bunga bersusun, bunganya muncul pada pucuk tangkai batang.

Siapa sangka tanaman ini ternyata memiliki khaziat yang dahsyat untuk mengobati sejumlah penyakit, seeprti Diabetes, haid tak lancar, diare, demam, ambeien, keputihan, cacingan, dan beragam masalah kesehatan lainnya. Bagian yang biasanya digunakan untuk pengobatan adalah batang, daun dan bunga, dengan efek herbal sebagai karminatif, antimikroba, antioksidan dan emmenagoga.

Di Filipina, tanaman ini digunakan untuk pengobatan asma, angina, insomnia, radang mata, dipepsia, sinusitis, luka berdarah dan memar.

Beberapa resep pengobatan dengan menggunakan tanaman ini adahah:

  1. Diabetes

Bahan:

  • Daun iler 35 g
  • Adas (Foeniculum vulgare) 10 g

Cara membuat:

Daun Iler dicuci bersih, lalu bersama Adas direbus dalam 3 gelas air hingga tersisas 1 gelas. Angkat, saring, dinginkan. Minum dua kali sehari setiap pagi dan sore hari.

  1. Haid tak lancar

Bahan:

Daun Iler kira-kira segenggam dicuci hingga bersih, lalu direbus dalam 3 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Angkat, saring, lalu dinginkan. Minum 1 kali sehari menjelang haid.

 

Sumber: Herbal Indonesia Berkhasiat Vol 10, 2012

Iwan Fals Ternyata Tak Pilih Ahok

Dituding memberikan dukungan kepada Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok pada Pilkada Gubernur Jakarta 2017 mendatang, Iwan Fals membantah dengan mengunggah fotonya di Twitter @iwanfals.

“Dibilang sy dukung ahok, ya gak mungkinlah wong saya warga Depok, ni ktp sy klo gak percaya,” tulisnya, Jumat (15/4/2016).

iwan fals

Netizien menangapi cuitan Iwan ini dengan beragam komentar. Tomi Lebang, dalam statusnya di Facebook menulis:

Tak bersuara soal Gubernur Jakarta, sang legenda ini lalu memajang KTP-nya dengan komentar yang tahu diri: dia penduduk Jawa Barat, satu kawasan dengan sejarawan Jakarta, JJ Rizal dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi.”

Komentar-komentar pun mulai bermunculan:

Di Jakarta bahkan se Indonesia lagi demam Ahok.
Dan banyak sekali orang orang yg akan menjatuhkan Ahok.
saya cuma bisa dukung tapi gk bisa milih , karena saya bukan penduduk DKI,” ungkap netizen lainnya bernama Sandi Dwi. []