Inspirasi dari Limalas: Ketika Perempuan Pulau Bertani Organik

Limalas 01

Di musim kemarau, Mama Angela dan sejumlah warga Limalas lainnya bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari sayuran organic, khususnya sawi. Sayuran produk Limalas ini bahkan dipasarkan hingga daerah-daerah lain sekitar (Foto: Wahyu Chandra/mongabay.co.id).

Mama Angela tersenyum. Setiap beradu mata dengannya ia pasti tersenyum. Memperlihatkan giginya yang kemerahan. Seperti orang Papua lainnya, Ia memang hobi mengunyah sirih dan pinang. Meski usianya sudah 40 an tahun namun ia tetap terlihat sangat bersemangat bekerja.

Siang itu, Rabu (21/10/2015), saya berkunjung ke kebun sayuran organik yang dikelolanya bersama belasan perempuan warga Kampung Limalas Timur lainnya. Luasnya tak sampai satu hektar, namun hamparan lahan yang dulunya tandus dan tak terkelola ini tampak hijau dengan beragam sayuran, dengan dominasi sayuran sawi.

“Ini sudah hampir panen, masih sedikit lagi,” katanya sambil menyirami sayuran sawi yang terlihat besar dan sehat. Kebun sayuran ini adalah salah satu sumber mata pencaharian tambahan warga Limalas di musim kemarau.

Angela adalah warga Kampung Limalas Timur, Distrik Misool Timur, Raja Ampat, Papua Barat. Ibu rumah tangga ini adalah Ketua Kelompok Embun Pagi, sebuah kelompok ekonomi pemberdayaan perempuan di Misool Timur, yang dibentuk awal 2015 lalu, salah satu dampingan dari The Nature Conservancy (TNC) di Raja Ampat.

Meski tergolong baru, namun semangat Angela dan anggota Kelompok Embun Pagi lainnya untuk berusaha sangat besar. Belum sebulan setelah dibentuk mereka langsung tancap gas. Mereka mengelola sejumlah unit usaha keluarga, mulai dari pertanian organik, minyak kelapa, dan abon ikan.

Menurut Angela, kalau dulunya warga yang terlibat menanam sayuran ini hanya beberapa orang saja, kini jumlahnya semakin bertambah.

“Ini sudah banyak yang mau ikut menanam karena hasilnya bisa menambah penghasilan keluarga,” katanya.

Uniknya, lahan yang digunakan tersebut adalah milik pribadi Angela, warisan dari ayahnya. Namun ia mengaku ikhlas digunakan orang lain untuk ditanami. Setiap orang bebas untuk datang menanam semampu yang bisa dikelola.

“Semampu mereka saja dan berapa banyak bibit dimiliki. Ada yang menanam sampai 12 bedengan. Ada juga yang cuma 5 bedengan saja.”

Meski awalnya hanya diperuntukkan untuk anggota kelompok Embun Pagi, yang berjumlah 19 orang, kini Angela membebaskan setiap orang untuk datang menanam.

Banyaknya warga yang kemudian tertarik untuk terlibat dalam aktivitas penanaman sayur ini tak terlepas dari keuntungan yang diperoleh. Dengan hanya memiliki 10 bedengan sawi saja misalnya, setiap orang bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 1 juta per bulan, dengan perhitungan bahwa mereka panen tiap minggu.

“Tiap minggu kalau panen hasilnya tidak tentu, kadang bisa sampai Rp 300 ribu, tapi juga kadang hanya Rp 90 ribu saja. Tergantung jumlah sayuran yang bisa kami panen,” tambah Angela.

Dalam setiap bedengan biasanya bisa dihasilkan 20 – 40 ikat sawi, yang dijual seharga Rp 3000/ikat. Setiap minggu akan ada pedagang pengumpul yang datang, yang kemudian menjualnya ke daerah-daerah sekitar Limalas dengan harga Rp 5000/ikat.

“Kebanyakan dibeli oleh karyawan PT Yellu Mutiara. Sebagian besar sayuran mereka asalnya dari sini,” jelas Angela.

Tidak hanya sayuran organik, Kelompok Embun Pagi juga mengelola usaha pembuatan minyak kelapa skala rumah tangga. Berbeda dengan sayuran, warga yang terlibat di usaha ini seluruhnya dari anggota kelompok.

Bahan baku utama, buah kelapa mudah diperoleh di daerah ini, dan selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk kopra.

“Kalau kelapa diolah dalam bentuk minyak hasilnya bisa lebih banyak, apalagi pasarnya sudah jelas,” papar Mama Rachel, anggota Kelompok Embun Pagi lainnya.

Masyarakat Limalas selama ini sebenarnya memang dikenal ahli dalam membuat minyak kelapa, hanya saja produksinya terbatas untuk konsumsi pribadi atau dijual di sekitar desa saja. Dengan produksi yang lebih banyak, kini mereka mencoba untuk menjual ke daerah-daerah sekitarnya.

Meski masih tradisional dalam pengolahan, namun kelompok ini mencoba lebih modern dalam hal pengemasan. Minyak kelapa dijual tidak hanya dalam kemasan botol, namun juga menggunakan bahan plastik tebal seperti halnya pada produksi minyak terkenal Bimoli.

Menurut Mama Rachel, produksi minyak kelapa mereka saat ini masih terbatas menyesuaikan dengan pasar yang ada. Mereka bahkan belum mematok harga jual yang tinggi, meski itu berarti mereka hanya mendapatkan potensi keuntungan yang kecil.

“Kalau mau dihitung-hitung ini masih jalan di tempat. Tapi namanya juga baru mulai produksi, kita belum fokus pada keuntungan yang banyak tapi pada keaktifan anggota kelompok,” jelas Mama Rachel.

Usaha lain yang kini tengah dikembangkan adalah pembuatan abon ikan tenggiri dan baubara, yang bahan bakunya banyak ditemukan di perairan Limalas.

Keterampilan membuat abon ikan ini diperoleh dari hasil kunjungan belajar ke Makassar, yang difasilitasi oleh TNC dan Pemda Raja Ampat pada April 2015 silam.

Kini mereka telah berupaya untuk memproduksi abon ikan ini sendiri secara mandiri, sambil terus meningkatkan kualitas.

“Kita masih terus belajar agar hasilnya bisa sama dengan yang di Makassar. Kita sudah coba dan ternyata banyak yang suka,” ungkap Mama Rachel.

Menurut Lukas Rumetna, Papua Bird’s Head Porpolio Manager TNC, tujuan utama TNC mendukung kelompok Embun pagi ini adalah agar masyarakat bisa berpartisipasi dalam menjaga kawasan yang ada di sekitar mereka, melalui aktivitas ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

“Kita ingin menunjukkan bahwa jika sumber daya alam yang ada di sekitar tidak dikelola dengan baik, maka aktivitas seperti yang mereka lakukan sekarang ini tidak akan berjalan baik untuk jangka panjang. Dengan menjaga alam, menjaga sumber daya laut, maka ada hasil-hasil yang bisa dimanfaatkan,” ujar Lukas.

Buktinya, menurut Lukas, dari sejumlah informasi yang dikumpulkan TNC dari masyarakat diketahui bahwa sekarang ini produksi ikan di Limalas mengalami sedikit peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Dalam kaitannya dengan upaya konservasi yang kita lakukan di Raja Ampat ini, maka ini juga termasuk aspek pemanfataannya. Bagaimana memaksimalkan sumber daya yang sudah ada dan sekaligus memberi perubahan yang positif.”

Terkait keberadaan kebun sayuran organik, Lukas menambahkan, bahwa meskipun usaha berkebun sayuran ini sebenarnya sudah lama dilakukan, namun kemudian diberikan penguatan pada pengelolaan secara organik, yang tidak tergantung pada bahan-bahan kimiawi.

“Kalau tanahnya masih baik maka tak usah pakai bahan kimiawi. Kita bantu dengan memberikan pelatihan cara-cara budidaya sayuran yang baik dikerjasamakan dengan pihak pemda yang terkait.”

Untuk usaha minyak kelapa, tidak hanya peralatan dan modal awal, TNC juga memberikan pelatihan pembuatan minyak kelapa sesuai standar dan cara pengemasan yang lebih baik. Hal yang sama dilakukan untuk usaha pengolahan abon ikan.

“Kita berikan modal usaha, lalu kunjungan belajar ke daerah lain, serta pelatihan-pelatihan manajemen usaha, keuangan dan hal-hal pendukung lainnya. Kita berharap agar nantinya produk abon ikan ini bisa diproduksi dengan baik, yang bisa diterima semua konsumen dari seluruh Indonesia, sehingga kita juga bantu untuk sertifikasi MUI dan Dinas Kesehatan.”

Ke depan, Lukas bermimpi produksi abon dari Limalas bisa menjadi komoditas khas Limalas, yang bisa diperdagangkan hingga ke Raja Ampat, Sorong, dan bahkan daerah lainnya di Indonesia.

“Kita akan bantu hingga usaha ini bisa benar-benar berkembang dengan baik, termasuk dalam hal promosinya.”

Dipilihnya Limalas sebagai sasaran dampingan program ini, meskipun tidak termasuk dalam kawasan konservasi di Raja Ampat, menurut Lukas, mengingat pentingnya Limalas dan kampung-kampung sekitarnya sebagai daerah penyangga, yang berada di pinggiran kawasan konservasi.

“Artinya, kalau aktivitas yang dilakukan di kampung-kampung ini merusak, seperti pengeboman dan pembiusan ikan, maka itu pasti akan mempengaruhi daerah yang termasuk dalam kawasan konservasi.”

TNC juga, menurut Lukas, ingin menjadikan Limalas sebagai kampung percontohan yang sukses memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya tanpa melakukan aktivitas pengrusakan.

Di Misool sendiri, menurut Lukas, aktivitas destructive fishing masih sering dilakukan di sejumlah kampung. Salah satu yang paling ekstrim adalah Kampung Wjim, yang masih bertetangga dengan Limalas.

“Dengan adanya aktivitas positif di Limalas maka kita ingin memberikan contoh kepada warga Kampung Wjim, bahwa sebenarnya tanpa melakukan aktivitas pengeboman pun sebenarnya masih terdapat aktivitas altrenatif yang sangat baik sebagai sumber pendapatan ekonomi.”

Penulis: Wahyu Chandra

Sumber: http://www.mongabay.co.id

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s