Keluarga Bahagia

Sanusi menatap istrinya lekat. Senyum terus mengembang di wajahnya, diliputi rasa bahagia yang entah datangnya darimana. Laila pun melakukan hal yang sama. Ini mungkin momen paling membahagiakan dalam hidup mereka. Entah kapan terakhir rasa bahagia itu dirasakan keduanya.

Pasang surut hubungan membawa mereka pada ketegangan-ketegangan dan pertengkaran. Hubungan mereka sempat di ujung kehancuran. Tujuh tahun adalah waktu singkat sekaligus terpanjang bagi mereka. Dua tahun setelah menikah, konflik-konflik mulai muncul. Kadang karena hal-hal sepele. Salah memilih baju atau sekedar lupa mengunci pintu rumah bisa menjadi sumber pertengkaran yang hebat. Semua hal bisa menjadi bibit konflik. Ironisnya, tak ada satupun usaha yang mereka lakukan untuk saling memahami dan melekatkan diri.

Puncaknya sekitar setahun silam ketika Laila tanpa sengaja mendapati sebuah tempelan lipstick di lengan baju Sanusi. Tak begitu jelas, seperti telah dibersihkan secara buru-buru, namun cukup jelas menunjukkan bahwa itu sebentuk bibir dengan aroma khas lisptik yang dikenalinya. Apalagi insting kewanitaannya mengambil alih. Segala pertengkaran sepanjang hari bersileweran di depannya. Seakan menegaskan kecurigaannya selama ini.

Laila telah lama curiga pada perilaku-perilaku tak nyaman dari suaminya. Meski tak pernah melayangkan tangan, namun sikap acuh tak acuh dan mempermasalahkan segala sesuatu yang sepele tak pelak membuat Laila berpikir adanya orang ketiga dalam hubungan mereka. Bekas lisptik itu adalah penegas segalanya. Dan amarahnya pun meluap seketika, seperti tsunami yang ingin meluluhlantahkan apapun di depannya.

Tapi, seperti biasa, Sanusi dengan ketakacuhannya mengelak tudingan itu.

“Ini memang bekas lipstick. Milik Murni, teman di kantor. Kami tidak sengaja berpapasan di pintu dan bibirnya menyentuh lengan bajuku,” bantah Sanusi tak kalah kerasnya, ketika Laila menghampirinya, melemparinya baju, dan memaki dengan segala kata kotor yang diketahuinya.

Tapi Laila tak lantas percaya begitu saja. Dengan kasar ia memaksa melihat ke leher suaminya, mencari sebentuk tanda berwarna merah.

“Lalu cupang ini apa? Tak sengaja juga?!!”

“Hayolah. Ini sudah lama ada di situ, entah karena alergi atau apa. Masa sih tak pernah lihat selama ini.” Sanusi masih tetap kukuh membela dirinya. Mempertahankan harga dirinya.

Sayangnya, semua alasan-alasan itu tak cukup meyakinkan Laila. Amarahnya telah melebihi dosis. Akumulasi dari kedongkolan dan keputusasannya selama ini. Dan malam itu mengubah segalanya. Segalanya sudah tak pernah sama lagi. Tak ada lagi hal-hal baik yang bisa dilihat dari suaminya.

Meski tetap hidup serumah karena pertimbangan keberadaan Roby, anak semata wayang mereka, namun hubungan mereka benar-benar hambar. Petengkaran mulai berkurang, namun tak ada lagi saling sapa atau sekedar mengingatkan. Ketika Sanusi lupa membawa tas yang tergeletak di meja, Laila membiarkan saja tak berusaha mengingatkan. Tak perduli Sanusi harus kembali sejam kemudian untuk mengambilnya, mengacaukan seluruh agenda kegiatannya hari itu.

Tiba-tiba sesuatu terjadi, sekitar sebulan lalu. Sanusi mendapati istrinya menangis sesungukan di dapur.

Sanusi bertanya ada apa, namun Laila hanya menggeleng penuh keputusasaan.

“Ada apa Ma?” tanya Sanusi lagi hampir putus asa. Perasaan bersalah tiba-tiba menghujam ulu hatinya. Hati-hati ia mencoba merengkuh Laila dalam pelukannya dan anehnya tak ditepis. Laila malah semakin mempererat pelukan. Sanusi mencium kepala istrinya berkali-kali, hingga tak terasa air matanya mengalir. Mereka berdua basah oleh air mata malam itu. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, keduanya tertidur dengan senyum penuh kebahagiaan.

Malam itu adalah awal baru membina kembali keluarga bahagia, seperti janji mereka di awal pernikahan dulu. Pagi-pagi Laila sudah bangun menyiapkan sarapan dengan penuh suka cita. Ia bersenandung kecil. Sanusi yang mendapati senyum bahagia itu, tak tahan untuk tak merengkuh dan mencium pipi istrinya. Berkali-kali. Roby, yang juga sedang sarapan seperti tak terpengaruh dengan pemandangan langka itu. Hatinya masih terlalu muda untuk menyadari apa yang tengah terjadi.

Kebahagiaan itu sepertinya akan bertahan lama dan akan menjadi rutinitas baru dalam keluarga Sanusi-Laila. Tiap malam, di sofa ruang tamu, mereka duduk begitu rapat dan saling berangkulan. Laila akan memeluk lengan suaminya dengan manja. Lalu Sanusi akan membelai rambut istrinya sambil sesekali mencium kepala atau pipi istrinya.

“Kita harus lebih sering seperti ini,” kata Sanusi suatu ketika.

Laila mengangguk setuju dengan perasaan riang gembira. Seperti dahulu ketika remaja, ketika pertama kali jatuh cinta, dirinya diliputi rasa bahagia yang luar biasa. Ia merasakan sebuah kuasa dahsyat mengalir di dirinya. Dan ajaibnya, Sanusi ternyata juga merasakan hal yang sama. Ia tak lagi perduli dengan Sinta, Marni, Lidya, Rini, dan sederetan perempuan-perempuan muda yang ditemuinya diam-diam sepulang kantor atau di waktu-waktu istirahat kerjanya. Laila telah berhasil mengambil alih kembali seluruh perhatiannya.

Keduanya kini lebih intens dalam berkomunikasi. Mereka membicarakan apa saja. Termasuk kekonyolan-kekonyolan mereka selama ini. Mereka pun bersemangat akan seperti ini di masa-masa akan datang.

“Semua hal harus dibicarakan dengan baik. Kalau seperti ini maka tak ada lagi yang harus dipertentangkan hingga harus ngotot-ngototan seperti selama ini,” usul Sanusi. Mata mereka beradu kuat penuh cinta.

Laila mengangguk, meski tiba-tiba ia seperti melamunkan sesuatu. Sebuah keraguan tiba-tiba melintas di depannya.

“Kenapa sayang. Tadi sepertinya sejenak kamu melamun?”

Laila menggeleng. Tapi keraguan itu malah semakin jelas terlihat di wajahnya yang mulai memerah.

“Kenapa sayang? Ada hal yang ingin kamu sampaikan? Kamu boleh terbuka apa saja. Lihat saya begitu powerfull. Saya begitu bersemangat. Kalau ada yang ingin kamu sampaikan tak usah ragu. Saya siap mendengarkan apa saja dengan hati terbuka.”

Laila malah semakin ragu. Ia memang sepertinya menyimpan sesuatu yang begitu berat untuk diutarakan.

“Kamu benar-benar mau mendengarnya?” tanyanya terbata-bata.

Sanusi tersenyum lebar. Pandangannya masih penuh cinta, seakan tak merasakan perubahan drastis di ekspresi istrinya.

“Saya sudah melakukan kesalahan besar ketika kita saling diam selama ini,” ungkap Laila terbata-bata.

Sanusi malah semakin melebarkan senyumnya.

“Saya siap mendengarkan apa saja. Tak ada lagi yang bisa mengubah rasa sayang dan cinta saya. Apapun yang telah terjadi semuanya akan kita hadapi bersama. Yang lalu biar lah berlalu. Begitulah seharusnya sebuah keluarga. Iya kan?”

Laila mengangguk meski hatinya diliputi kebimbangan yang dahsyat.

“Ingat ketika saya pergi dua hari itu. Ketika kita habis bertengkar hebat?”

Sanusi mengangguk tanpa melepaskan senyumnya.

“Dua hari itu saya bersama Tomy, teman kantormu. Saya sangat labil ketika itu. Bingung. Dan dia tiba-tiba hadir mau mendengarkan semua cerita kesedihan-kesedihan dan keputusasaanku. Lalu malam itu, tiba-tiba kami sudah saling telanjang dan berpelukan erat di sofa. Kami melakukannya, tapi sumpah hanya sekali itu. Saya tidak pernah melakukannya lagi setelahnya. Saya tidak mencintainya. Saya benar-benar khilaf,” kata-kata seperti peluru keluar deras begitu saja dari mulut Laila.

Sanusi tetap menatap lekat ke istrinya. Senyum di wajahnya seperti tertahan. Kecut. Sebuah desakan kuat seperti melilit perutnya. Ia berusaha untuk tetap tersenyum meski terasa pahit hingga akhirnya tersungkur. Tak sadarkan diri di pangkuan istrinya. []

Makassar, 1 Maret 2016

Sumber gambar: http://www.featurepics.com

Advertisements